CIBEUREUM KULON — Semarak Milangkala ke-44 Desa Cibeureum Kulon dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya diisi dengan kegiatan hiburan dan kebersamaan masyarakat, tetapi juga menghadirkan Lomba Keagamaan sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Cibeureum Kulon MAPAN: Maju, Agamis, Profesional, Aman, dan Nyaman.
Lomba yang digelar pada Minggu, 9 Agustus 2026 tersebut menghadirkan berbagai cabang, di antaranya Praktik Gerakan Salat, Adzan, Tasmi’ Al-Fatihah, MTQ, Kaligrafi dan Mewarnai, serta Samroh. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh peserta dari berbagai kelompok usia dan mendapat dukungan dari orang tua, pendamping, serta masyarakat.
Agamis, Bukan Sekadar Slogan
Dalam visi Cibeureum Kulon MAPAN, kata “Agamis” tidak dimaknai sebatas banyaknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan. Lebih dari itu, agamis berarti bagaimana nilai-nilai agama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, tercermin dalam ibadah, akhlak, kepedulian, gotong royong, serta hubungan sosial antarwarga.
Karena itu, semangat membangun desa yang agamis dimulai dari nilai-nilai harian. Membiasakan salat tepat waktu, membaca dan mencintai Al-Qur’an, mengajarkan anak untuk menghormati orang tua dan guru, membiasakan salam dan sopan santun, menjaga kebersihan, saling membantu, bersedekah, serta menjaga kerukunan merupakan bentuk sederhana dari penerapan nilai agama dalam kehidupan masyarakat.
Agamis dimulai dari kebiasaan kecil setiap hari, kemudian tumbuh menjadi budaya masyarakat.
Dari Harian, Mingguan, Bulanan hingga Tahunan
Untuk menjaga kesinambungan pembinaan, nilai-nilai keagamaan dapat hadir dalam berbagai ruang dan momentum.
Harian, masyarakat dibiasakan menerapkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari melalui ibadah, akhlak, kepedulian, kejujuran, kedisiplinan, saling menghormati dan menjaga lingkungan.
Mingguan, kegiatan dapat diperkuat melalui pengajian rutin, majelis taklim, tadarus Al-Qur’an, pembinaan anak dan remaja, serta kegiatan keagamaan di masjid dan lingkungan masyarakat.
Bulanan, ruang pembinaan dapat dikembangkan melalui kegiatan keagamaan, kajian, pembinaan generasi muda maupun perlombaan sederhana antarlingkungan sebagai sarana mengasah kemampuan sekaligus mempererat silaturahmi.
Sementara tahunan, momentum Milangkala Desa, HUT Kemerdekaan RI, dan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dapat menjadi ruang yang lebih luas untuk menghadirkan perlombaan, syiar dan apresiasi terhadap potensi masyarakat.
Dengan pola tersebut, kegiatan keagamaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi sebuah proses pembinaan yang berkelanjutan: dibiasakan setiap hari, dikuatkan setiap minggu, dikembangkan setiap bulan, dan diapresiasi dalam momentum tahunan.
Membangun Desa Dimulai dari Manusianya
Kepala Desa Cibeureum Kulon, Gun Gun Turganda, S.H., menyampaikan bahwa pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia dan karakter masyarakat.
“Visi Cibeureum Kulon MAPAN harus dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Agamis bukan hanya tentang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, tetapi bagaimana nilai agama menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin memberikan ruang kepada anak-anak dan masyarakat untuk belajar, berprestasi, sekaligus menumbuhkan akhlak dan kecintaan terhadap agama.”
Menurutnya, kegiatan keagamaan dalam rangka Milangkala dan HUT RI menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan potensi mereka.
Lomba sebagai Media Pembinaan
Sementara itu, Sekretaris Desa Cibeureum Kulon, Handri Novianto, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa perlombaan keagamaan harus dipandang lebih luas daripada sekadar kompetisi untuk mendapatkan juara.
“Lomba keagamaan bukan sekadar mencari siapa yang terbaik, tetapi bagaimana prosesnya mampu menumbuhkan keberanian, kedisiplinan, kecintaan terhadap agama dan akhlak yang baik. Kita ingin kegiatan ini menjadi bagian dari ekosistem pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan, mulai dari kebiasaan harian, kegiatan mingguan dan bulanan, hingga momentum tahunan.”
Ia menambahkan, keberlanjutan kegiatan menjadi penting agar semangat Cibeureum Kulon Agamis tidak hanya terasa ketika ada perlombaan.
“Kalau hari ini anak-anak berlatih adzan, membaca Al-Qur’an, praktik salat atau bershalawat untuk sebuah perlombaan, harapannya setelah perlombaan selesai kebiasaan baik itu tetap dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Juara adalah bonus, sedangkan terbentuknya generasi yang religius dan berakhlak adalah tujuan utamanya.”
Bukan Sekadar Lomba, tetapi Gerakan Bersama
Pelaksanaan Lomba Keagamaan Milangkala ke-44 dan HUT RI menjadi salah satu gambaran bahwa Cibeureum Kulon MAPAN terus diupayakan melalui kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Setiap penampilan peserta menjadi bagian dari proses belajar. Setiap dukungan orang tua menjadi bagian dari pendidikan. Setiap kerja panitia menjadi bagian dari pelayanan. Dan setiap kebersamaan masyarakat menjadi bagian dari pembangunan desa.
Pemerintah Desa Cibeureum Kulon menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peserta, orang tua, pendamping, dewan juri, panitia, perangkat desa, serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi dan memberikan dukungan.
Sebab pada akhirnya, desa yang MAPAN bukan hanya desa yang maju secara pembangunan, tetapi juga desa yang nilai agamanya hidup, masyarakatnya berakhlak, warganya guyub, dan generasinya memiliki masa depan.
Harian dibiasakan.
Mingguan dikuatkan.
Bulanan dikembangkan.
Tahunan dirayakan dan diapresiasi.
Cibeureum Kulon MAPAN — Maju, Agamis, Profesional, Aman, Nyaman. (HN.)