CIBEUREUM KULON – Di aliran sungai DAM Cibeureum, tepat di belakang Alfamart dan GOR Futsal Fasya Center, masyarakat Desa Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, masih setia memainkan permainan tradisional yang dikenal dengan nama Sontoloyo. Permainan berbasis air ini telah menjadi warisan turun-temurun dari leluhur, dan hingga kini tetap hidup dimainkan, bukan hanya oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Sontoloyo dimainkan dengan cara membuat mainan berbentuk ikan atau kapal kayu yang diberi plat khusus agar bisa melaju di permukaan air. Mainan itu kemudian dilepaskan ke arus sungai, dan para pemain berlomba melihat siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Sederhana, namun penuh keseruan dan sarat makna kebersamaan.
Kepala Desa Cibeureum Kulon, Gun Gun Turganda, S.H., menegaskan bahwa permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya desa. “Sontoloyo adalah permainan warisan leluhur yang unik. Bukan hanya anak-anak yang memainkannya, tapi juga orang dewasa. Dari sini kita bisa belajar bahwa permainan rakyat mampu menyatukan generasi dan menjaga ikatan sosial,” ujarnya.
Permainan ini biasanya dimainkan pada momen-momen tertentu, seperti hari libur, perayaan kemerdekaan, hingga kegiatan budaya desa. Atmosfernya selalu ramai: anak-anak bersorak, remaja tertantang, dan orang tua larut dalam nostalgia. Bahkan bagi sebagian warga, membuat Sontoloyo dengan tangan sendiri adalah sebuah kebanggaan karena menunjukkan kreativitas dan keterampilan tradisional.
Ketua BPD Cibeureum Kulon, Ahmad Zaenudin, menilai Sontoloyo sebagai kekayaan budaya lokal yang patut diperkenalkan lebih luas. “Keunikan Sontoloyo adalah karena berbasis air, jarang ditemukan di daerah lain. Ini bisa menjadi ciri khas budaya Cibeureum Kulon yang membedakan kita dari desa lain,” katanya.
Lebih jauh, permainan Sontoloyo dianggap memiliki nilai edukasi. Selain melatih keterampilan membuat mainan dari bahan sederhana, permainan ini juga menumbuhkan sportivitas, kebersamaan, dan rasa hormat pada tradisi. “Permainan leluhur seperti ini adalah warisan yang harus kita rawat. Jika hilang, kita kehilangan salah satu identitas desa,” tambah Ahmad.
Komitmen Pelestarian
Pemerintah Desa Cibeureum Kulon berkomitmen kuat untuk melestarikan permainan tradisional ini. Komitmen itu dibuktikan dengan diselenggarakannya Lomba Sontoloyo pada rangkaian kegiatan Milangkala ke-43 Desa Cibeureum Kulon sekaligus memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Acara lomba tersebut tidak hanya menghadirkan keseruan balapan Sontoloyo, tetapi juga dilanjutkan dengan kegiatan ngagogo atau menangkap ikan bersama di aliran sungai. Kedua kegiatan itu sukses menyedot antusiasme warga lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa, yang larut dalam keceriaan penuh nuansa kebersamaan.
Kini, Pemerintah Desa Cibeureum Kulon mendorong agar Sontoloyo tidak hanya bertahan sebagai permainan tradisional, tetapi juga bisa menjadi bagian dari daya tarik budaya desa. Dengan menghidupkan kembali warisan leluhur, desa berharap generasi muda dapat lebih mencintai tradisi sekaligus menjaga kebersamaan sosial.
“Harapan kami, Sontoloyo tetap diwariskan ke generasi berikutnya. Bukan sekadar permainan, tapi juga simbol kebersahajaan, kreativitas, dan jati diri masyarakat Cibeureum Kulon,” tutup Gun Gun. (HN.)