CIBEUREUM KULON – Pemerintah Desa Cibeureum Kulon terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal dengan memperkenalkan kembali permainan tradisional engrang di ruang publik terbuka Alun-alun Desa. Upaya ini tidak hanya bertujuan sebagai hiburan rakyat, melainkan juga sebagai media edukasi untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, ketangkasan, dan kearifan lokal di tengah masyarakat.
Engrang, permainan yang menggunakan sepasang bambu dengan pijakan untuk melangkah, dulu sangat populer dimainkan anak-anak desa pada masa lalu. Namun seiring perkembangan zaman dan derasnya pengaruh permainan modern berbasis teknologi, keberadaan engrang mulai terpinggirkan. Melihat kondisi itu, Pemerintah Desa Cibeureum Kulon mengambil langkah strategis dengan menghadirkannya kembali sebagai bagian dari aktivitas masyarakat di ruang terbuka desa.
Kepala Desa Cibeureum Kulon, Gun Gun Turganda, S.H., menyebut bahwa permainan engrang menyimpan filosofi yang dalam. “Engrang bukan sekadar permainan ketangkasan. Ia mengajarkan bagaimana menjaga keseimbangan dalam melangkah, keteguhan menghadapi tantangan, dan keberanian mengambil langkah maju. Nilai-nilai inilah yang relevan untuk kita tanamkan pada anak-anak maupun generasi muda,” ujarnya.
Respon masyarakat terhadap pengenalan kembali permainan engrang ini cukup positif. Tidak hanya anak-anak, para remaja hingga orang dewasa pun ikut antusias mencoba kembali permainan masa kecil tersebut. Situasi itu menghadirkan suasana kebersamaan di alun-alun desa, menjadikannya sebagai ruang publik yang hidup dengan tawa dan keriangan masyarakat.
Selain menjadi wahana hiburan, engrang juga memberi manfaat lain, seperti melatih keseimbangan tubuh, ketangkasan, serta menumbuhkan keberanian. Lebih dari itu, permainan tradisional ini diyakini mampu mempererat interaksi sosial di era modern yang serba digital, di mana sebagian besar waktu masyarakat kini banyak dihabiskan dengan gawai.
Pemerintah Desa Cibeureum Kulon menegaskan bahwa pelestarian permainan tradisional seperti engrang bukan hanya sebatas kegiatan insidental, tetapi akan dijadikan agenda rutin dalam rangkaian kegiatan desa, baik pada momen peringatan hari besar maupun acara kebudayaan. Dengan begitu, permainan warisan leluhur ini tidak hanya sekadar dikenang, melainkan benar-benar diwariskan kepada generasi berikutnya.
Inisiatif ini juga sejalan dengan visi Desa Cibeureum Kulon sebagai desa yang peduli terhadap kebudayaan sekaligus memanfaatkan ruang publik sebagai sarana interaksi warga. Kehadiran permainan tradisional di alun-alun diharapkan dapat menjadi daya tarik sekaligus identitas desa yang menjunjung tinggi kearifan lokal di tengah arus globalisasi. (HN.)